Kilau Bertuah dari Bumi Melayu: Ketika Batu Akik Jambi Menjadi Mahakarya
Sendang Roso-Jangan pernah memandang batu akik hanya sebagai batu biasa yang ditemukan di tepian sungai atau tanah Jambi. Di tangan pengrajin yang terampil, batuan mentah dapat berubah menjadi mahakarya bernilai estetika tinggi—menyimpan karakter, cerita, sekaligus identitas sebuah daerah.

Pesona itulah yang dihadirkan dalam Kontes Batu Akik Bertuah Jambi 2026 yang berlangsung pada 19–21 Agustus 2026 di Pelataran Taman Mini Melayu Jambi, kawasan Ex-MTQ. Ajang ini menjadi panggung bagi para pengrajin, kolektor, pecinta batu permata, dan masyarakat untuk mengagumi sekaligus mengenal lebih dekat kekayaan batu alam khas Jambi.
Ketika Alam Bertemu Sentuhan Seni
Setiap batu memiliki cerita yang berbeda. Bentuk, warna, serat, hingga pola alami yang terbentuk selama proses geologi menjadikan setiap batu memiliki karakter yang tidak selalu dapat ditemukan pada batu lainnya.
Di tangan pengrajin, karakter tersebut kemudian diperkuat melalui proses pemotongan, pengasahan, dan pemolesan yang membutuhkan ketelitian serta kepekaan seni. Dari batuan mentah, lahirlah sebuah karya yang tidak hanya indah dipandang, tetapi juga memiliki nilai budaya dan ekonomi.
Jambi sendiri memiliki sejumlah batu khas yang menjadi daya tarik tersendiri. Batu Teratai Sarolangun dikenal melalui pola fosil melingkar yang unik. Sementara Sungkai dan Malinau Merangin menghadirkan keindahan serat kayu yang membatu secara alami. Adapun Red Chalcedony Senamat Bungo memikat lewat karakter warna merahnya yang kuat dan elegan.
Keberadaan batu-batu tersebut menjadi bukti bahwa kekayaan alam Jambi tidak hanya berada di atas permukaan tanah, tetapi juga tersimpan dalam keindahan batu-batu yang selama ini mungkin luput dari perhatian.
Bukan Sekadar Kontes, Tetapi Identitas Daerah
Camat Telanaipura, Widdy Frima, S.Sos., M.M., yang mewakili Pemerintah Provinsi Jambi, menegaskan bahwa kontes batu akik memiliki makna lebih luas daripada sekadar kompetisi. Menurutnya, batu khas Jambi merupakan bagian dari identitas daerah yang perlu dikenalkan dan dibanggakan.
“Kegiatan kontes batu akik ini merupakan bagian dari upaya kita mengenalkan bahwa Jambi memiliki batu khas daerah… yang menjadi identitas Jambi,” ungkap Widdy.
Kontes ini sekaligus menjadi ruang apresiasi terhadap para seniman pengasah batu. Sebab, keindahan sebuah batu tidak hanya ditentukan oleh material alaminya, tetapi juga oleh kemampuan manusia dalam membaca karakter batu dan mengolahnya tanpa menghilangkan keunikan alaminya. Di sinilah seni, ketelitian dan rasa berpadu menjadi sebuah karya.
Dari Jambi untuk Indonesia
Antusiasme peserta dan pecinta batu akik menjadi sinyal bahwa tradisi batu akik masih memiliki tempat di tengah masyarakat. Lebih dari itu, geliat komunitas batu akik dapat menjadi bagian dari pengembangan ekonomi kreatif berbasis potensi lokal.
Ketua Penyelenggara Kontes Batu Akik Bertuah Jambi 2026, Dtk. Fadhil.Gmy, S.E., melihat besarnya antusiasme tersebut sebagai peluang untuk membawa batu khas Jambi ke panggung yang lebih besar.
“Kami berjanji akan membuka kembali kontes lanjutan di level nasional agar batu-batu khas Jambi bisa dikenal lebih luas,” tegas Fadhil.
Harapan itu menjadi langkah penting. Sebab, jika dikelola secara konsisten, batu khas Jambi bukan hanya dapat menjadi kebanggaan para kolektor, tetapi juga membuka peluang bagi pengrajin, pelaku usaha, komunitas, hingga sektor pariwisata dan ekonomi kreatif.
Kontes Batu Akik Bertuah Jambi 2026 pada akhirnya bukan hanya tentang siapa yang memiliki batu paling indah. Ini tentang bagaimana masyarakat melihat kembali kekayaan alamnya, menghargai tangan-tangan terampil pengrajinnya, dan memperkenalkan identitas Bumi Melayu kepada Indonesia. Karena di balik setiap kilau batu, ada jejak alam. Dan di balik setiap hasil asahan, ada sentuhan manusia yang mengubah kekayaan bumi menjadi sebuah mahakarya.





