Pembangunan Masjid Baitunnadiyah Jadi Awal Wajah Baru Eks Payo Sigadung Jambi
Sendang Roso-Wajah kawasan eks Payo Sigadung, yang selama ini dikenal masyarakat dengan sebutan Pucuk di Kelurahan Rawasari, Kecamatan Alam Barajo, Kota Jambi, mulai diarahkan menuju perubahan. Kawasan yang sebelumnya identik dengan berbagai stigma negatif kini diproyeksikan menjadi lingkungan yang religius, ramah bagi anak, memiliki aktivitas ekonomi, serta memberikan ruang bagi kehidupan sosial masyarakat.
Perubahan tersebut ditandai dengan dimulainya pembangunan Masjid Baitunnadiyah di Jalan Syailendra RT 05, Kelurahan Rawasari. Peletakan batu pertama dilakukan oleh Wali Kota Jambi Dr. dr. H. Maulana, M.KM., bersama Ketua TP PKK Kota Jambi Dr. dr. Hj. Nadiyah, Sp.OG., dan Wakil Wali Kota Jambi Diza Hazra Aljosha, S.E., M.A.

Masjid Baitunnadiyah dibangun atas kepedulian keluarga besar Wali Kota Jambi. Pembangunan rumah ibadah tersebut juga tidak lepas dari dukungan masyarakat setempat.
Salah satunya datang dari Ibu Tya yang dengan sukarela menghibahkan lahan untuk digunakan sebagai lokasi pembangunan masjid.
Maulana menyebut pembangunan masjid memiliki makna yang jauh lebih besar daripada sekadar menyediakan tempat untuk beribadah. Masjid diharapkan menjadi fondasi awal untuk membangun kehidupan masyarakat yang lebih baik sekaligus mengubah citra kawasan eks Pucuk.
“Kami ingin tempat ini melahirkan generasi masa depan yang hebat seperti bunga teratai yang mampu tumbuh mengagumkan dan membawa keindahan meski berada di lingkungan yang rumit,” ujar Maulana.
Ia menegaskan, pembenahan kawasan tidak bisa hanya mengandalkan pembangunan fisik. Nilai agama, pendidikan, pemberdayaan ekonomi dan lingkungan yang baik bagi anak juga menjadi bagian penting dalam proses perubahan tersebut.
Sejalan dengan itu, Pemkot Jambi tengah menyiapkan rencana pembebasan lahan sekitar 20 tumbuk di sekitar Masjid Baitunnadiyah. Area tersebut nantinya dikembangkan sebagai pusat kegiatan masyarakat terpadu atau one-stop community hub.
Konsep yang disiapkan mencakup sejumlah fasilitas untuk masyarakat. Bagi anak-anak, kawasan tersebut akan menyediakan play group, taman bermain dan ruang terbuka hijau. Sementara untuk mendukung perekonomian warga, akan disiapkan sentra UMKM, pusat kuliner khas serta galeri kerajinan lokal.
Tidak hanya itu, kawasan tersebut juga akan memiliki fungsi sebagai pusat pembinaan keagamaan dan sosial. Kegiatan kajian keagamaan serta aktivitas sosial kemasyarakatan diharapkan dapat menjadi bagian dari kehidupan baru masyarakat di kawasan tersebut.

Wakil Wali Kota Jambi Diza Hazra Aljosha mengatakan, menghapus stigma negatif yang telah melekat selama bertahun-tahun membutuhkan proses dan kerja bersama. Menurutnya, perubahan tidak mungkin terwujud hanya melalui pemerintah, tetapi membutuhkan keterlibatan masyarakat dan seluruh pihak.
“Mengubah stigma membutuhkan tekad baja dan kerja sama semua pihak. Hari ini kita buktikan, dengan fondasi keimanan dan kepedulian bersama, masa lalu yang kelam bisa kita ubah menjadi masa depan yang cerah,” kata Diza.
Dengan dimulainya pembangunan Masjid Baitunnadiyah, kawasan eks Payo Sigadung diharapkan memasuki fase baru. Masjid tersebut menjadi salah satu simbol bahwa kawasan yang dahulu dikenal karena stigma negatif kini memiliki arah pembangunan yang berbeda.
Ke depan, kawasan itu ditargetkan tidak hanya menjadi tempat tinggal, tetapi juga ruang yang mendukung kegiatan keagamaan, pendidikan anak, aktivitas sosial dan pertumbuhan ekonomi masyarakat.
Transformasi eks Payo Sigadung menjadi kawasan yang lebih baik pun diharapkan menjadi contoh bahwa perubahan dapat dimulai dari langkah sederhana, selama dibangun atas dasar kepedulian, kebersamaan dan komitmen untuk menciptakan masa depan yang lebih baik bagi masyarakat.





