Gizi Tetap Terjaga Saat Karhutla, Ini Panduan Dokter untuk Lindungi Tubuh dari Dampak Asap
JAMBI-Bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tidak hanya mengancam lingkungan dan mengganggu aktivitas masyarakat, tetapi juga dapat berdampak pada kesehatan, terutama ketika kualitas udara menurun akibat paparan asap. Dalam kondisi seperti ini, menjaga asupan gizi dan kebersihan makanan menjadi bagian penting untuk mempertahankan daya tahan tubuh.

Dokter Spesialis Gizi Klinik, dr. Sriyani, Sp.GK, MARS, mengingatkan masyarakat agar tidak mengabaikan kebutuhan gizi selama masa bencana. Menurutnya, tubuh membutuhkan asupan makanan bergizi seimbang untuk mendukung sistem kekebalan, terutama pada anak-anak dan remaja yang rentan terhadap gangguan kesehatan akibat paparan asap.
Dr. Sriyani saat ini bertugas di Rumah Sakit Theresia, Rumah Sakit dr. Bratanata, serta Rumah Sakit Mitra Kota Jambi. Ia merupakan lulusan Fakultas Kedokteran Atma Jaya Jakarta tahun 2008. Pendidikan Dokter Spesialis Gizi Klinik diselesaikannya di Universitas Diponegoro (UNDIP) Semarang pada 2018. Selain itu, ia menyelesaikan pendidikan S2 Manajemen Rumah Sakit di Universitas Esa Unggul (UEU) Jakarta pada 2024.

Perbanyak Makanan Sumber Antioksidan
Paparan asap karhutla dapat membuat saluran pernapasan mengalami iritasi. Karena itu, menurut dr. Sriyani, masyarakat perlu memperhatikan konsumsi makanan yang mengandung zat gizi dan antioksidan.
Vitamin A, C, dan E merupakan beberapa zat gizi yang memiliki fungsi antioksidan. Sumbernya dapat diperoleh dari berbagai buah dan sayuran, khususnya yang berwarna merah dan oranye.
“Vitamin C, E, dan A memiliki peran antioksidan dengan melawan radikal bebas yang bersifat racun dari asap kebakaran,” ujar dr. Sriyani.
Ia menyarankan masyarakat, terutama orang tua, menyediakan buah dan sayuran secara bergantian agar anak tidak mudah bosan. Pilihan yang relatif mudah ditemukan antara lain tomat, wortel, pepaya, jeruk, dan buah naga.
Selain itu, makanan yang mengandung omega-3 juga dapat menjadi bagian dari pola makan bergizi. Sumber omega-3 antara lain ikan dan beberapa jenis makanan lainnya.
Namun, dr. Sriyani menekankan bahwa makanan bergizi bukanlah pengganti pengobatan atau perlindungan dari paparan asap. Langkah utama tetap mengurangi paparan asap, membatasi aktivitas di luar ruangan ketika kualitas udara buruk, dan menggunakan masker yang sesuai.

Protein Jangan Sampai Terlewat
Di tengah kondisi bencana, masyarakat terkadang lebih berfokus pada ketersediaan makanan sehingga kualitas gizinya kurang diperhatikan. Padahal, kebutuhan protein tetap harus dipenuhi.
“Protein sebagai sumber untuk pembentukan sel imunitas dapat diberikan dalam bentuk protein hewani seperti telur, ikan, ayam, daging, dan susu,” jelas dr. Sriyani.
Ia menganjurkan agar sumber protein tersedia dalam menu sehari-hari bersama karbohidrat, sayur, dan buah sehingga kebutuhan gizi lebih seimbang.
Bagi keluarga yang berada di lokasi pengungsian atau wilayah terdampak, pilihan makanan tidak harus mahal. Telur, ikan, tempe, tahu, susu, serta buah-buahan lokal dapat menjadi pilihan sesuai ketersediaan.

Air Bersih dan Keamanan Pangan Sangat Penting
Selain makanan, air bersih menjadi perhatian penting selama masa tanggap darurat. Sumber air harus dipastikan aman karena air yang terkontaminasi dapat meningkatkan risiko penyakit infeksi.
Dr. Sriyani mengingatkan agar air yang akan diminum dimasak hingga mendidih apabila sumber air belum terjamin keamanannya.
“Memastikan air bersih dimasak dengan mendidih agar tidak terkontaminasi dengan kuman. Sumber air bersih juga harus diperhatikan,” katanya.
Hal yang sama berlaku pada makanan yang disimpan sebagai persediaan selama bencana, termasuk makanan kaleng dan makanan kering.
Menurutnya, masyarakat harus memeriksa tanggal kedaluwarsa dan kondisi kemasan sebelum mengonsumsi makanan. Kemasan yang rusak, menggembung, bocor, berkarat berat, atau menunjukkan tanda-tanda kerusakan sebaiknya tidak dikonsumsi.
Langkah tersebut penting untuk mencegah makanan terkontaminasi bakteri maupun zat berbahaya.
Jangan Biarkan Debu dan Sisa Pembakaran Mencemari Makanan
Saat karhutla, debu dan sisa pembakaran dapat lebih mudah mencemari lingkungan, termasuk bahan dan tempat penyimpanan makanan. Karena itu, kebersihan saat mengolah dan menyajikan makanan menjadi semakin penting.
Dr. Sriyani menyarankan masyarakat mencuci tangan menggunakan air mengalir sebelum menyiapkan makanan dan sebelum makan. Tempat makanan juga harus ditutup dengan baik agar tidak terpapar debu dan asap.
Bahan makanan yang akan dimasak juga perlu dicuci menggunakan air mengalir. Untuk bahan makanan tertentu, pencucian dapat dilanjutkan dengan perendaman sekitar 2–3 menit untuk membantu melepaskan debu atau kotoran yang menempel, kemudian dibilas kembali dengan air bersih.
Kebersihan peralatan makan dan area pengolahan makanan juga perlu diperhatikan, terutama di tempat pengungsian yang digunakan bersama-sama.
Hindari Makanan yang Memperberat Iritasi Tenggorokan
Asap karhutla dapat menyebabkan tenggorokan terasa kering atau teriritasi. Dalam kondisi tersebut, dr. Sriyani menyarankan masyarakat menghindari makanan dan minuman yang dapat memperburuk rasa perih, kering, maupun tidak nyaman pada tenggorokan.
“Makanan dan minuman yang terlalu dingin, terlalu manis, dan terlalu asam baiknya dihindari karena bisa memperberat iritasi tenggorokan akibat asap,” jelas dr. Sriyani.
Sebagai gantinya, masyarakat dapat memilih makanan yang lebih lembut, bergizi, dan mudah dikonsumsi, serta memastikan tubuh memperoleh cairan yang cukup. Konsumsi air putih secara teratur penting untuk membantu menjaga tubuh tetap terhidrasi, terutama ketika paparan asap membuat tenggorokan terasa kering.
Untuk anak-anak, orang tua juga perlu lebih memperhatikan pola makan dan minum selama kondisi udara memburuk. Jangan sampai anak kehilangan nafsu makan atau minum akibat tenggorokan yang tidak nyaman. Menu dapat dibuat lebih bervariasi dengan kombinasi karbohidrat, protein, sayuran, dan buah yang sesuai dengan selera anak.
Dr. Sriyani juga mengingatkan bahwa menjaga asupan gizi selama karhutla bukan hanya soal memilih makanan tertentu. Kebersihan makanan, keamanan air, serta upaya mengurangi paparan asap tetap menjadi bagian penting dalam menjaga kesehatan.
Dengan mengatur pola makan, mencukupi kebutuhan cairan, menjaga kebersihan, dan membatasi aktivitas di luar ruangan ketika asap pekat, masyarakat dapat membantu menjaga kondisi tubuh tetap prima selama menghadapi bencana karhutla.






