Menggema hingga Tiongkok, Penyair Jambi E.M. Yogiswara Bawa Bahasa Jiwa ke Panggung BRICS Literature Network
JAMBI-Dari balik kesibukannya mencatat warta harian, nada-nada sunyi dalam bait puisi karya sastrawan Jambi, E.M. Yogiswara, kini bersiap melintasi batas benua. Dua karya puitisnya berhasil lolos seleksi ketat dan terpilih menjadi bagian dari antologi puisi berbahasa Inggris bertajuk Golden Flames Upon the Sky, sebuah wadah prestisius yang bakal diterbitkan dan diluncurkan di Tiongkok pada Oktober 2026 mendatang.

Kehadiran nama E.M. Yogiswara atau yang akrab disapa Wak Edi di pentas internasional ini membawa harum nama Indonesia. Ia mengukuhkan posisi sebagai satu dari sepuluh penyair tanah air yang terpilih untuk mewakili negeri dalam jejaring sastra global, BRICS Literature Network.
Pengumuman penetapan tersebut disampaikan langsung oleh National Coordinator of BRICS Literature Network Indonesia, Sastri Bakry. Menurutnya, antologi ini dirancang sebagai jembatan budaya yang membawa identitas serta pemikiran para penyair Indonesia ke ranah internasional.
“Antologi ini dipersiapkan secara khusus untuk membawa nama Indonesia dalam jejaring BRICS Literature Network yang akan diterbitkan dan diluncurkan di Tiongkok pada Oktober 2026,” tutur Sastri dalam keterangannya.
Perjalanan menuju panggung dunia ini tidaklah instan. Program kurasi Golden Flames Upon the Sky melibatkan hampir 40 penyair dari beragam penjuru Nusantara dengan total sekitar 80 karya puisi yang dikirimkan. Curatorial Coordinator, Dikdik Sadikin, menjelaskan bahwa seluruh karya melewati penyaringan ketat melalui enam kriteria utama: kekuatan artistik dan puitik, orisinalitas, kedalaman tema, resonansi emosional, keakaran budaya Indonesia berdaya jangkau universal, hingga efektivitas penyampaian dalam bahasa Inggris.
“Karya puisi yang terpilih tidak hanya selaras dengan tema utama BRICS ‘Dialogue of Civilizations, One Shared Future’ serta ‘Across Civilizations, Peace, Humanity’, tetapi juga memiliki kekuatan keutuhan sebagai karya sastra yang mampu menjadi jembatan dialog budaya antarbangsa,” jelas Dikdik.
Bagi Wak Edi, pencapaian ini menjadi batu pijakan baru dalam kembara sastranya. Dua judul puisi karyanya yang berhasil memikat para kurator adalah Stirring the Soul’s Awareness dan The Worship of a Mother Spider. Kedua bait renungan tersebut nantinya tidak hanya diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris, melainkan juga bahasa Mandarin.
“Dua karya puitis yang berhasil lolos seleksi dan akan diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris serta Mandarin adalah Stirring the Soul’s Awareness dan The Worship of a Mother Spider,” ungkap penyair yang telah melahirkan 12 buku antologi puisi tunggal tersebut.
Sosok E.M. Yogiswara sendiri bukanlah nama asing dalam lanskap kebudayaan Jambi. Selain dikenal tekun meniti jalan puisi dan mendirikan Teater Air Jambi, ia sehari-hari bergulat dengan denyut berita sebagai jurnalis di Harian Pagi Jambi Ekspres.
Dalam antologi Golden Flames Upon the Sky, Wak Edi akan bersanding dengan sembilan penyair terpilih lainnya dari berbagai wilayah Indonesia, yakni Aria Maulana Santi, Dad Murniah/Nia Samsihono, Edrawati/Era Nurza, Elvina, Irawan Sandhya Wiraatmaja, Jamal D. Rahman, Novik El Koto, Pudji Isdriani, dan Soni Hurianto. Lewat jemari mereka, Indonesia tidak hanya menyapa dunia, tetapi juga merajut dialog perdamaian lewat keindahan kata.





