Bencana Karhutla dan Erupsi Gunung Anak Krakatau: Pendidikan dan Penerbangan Lumpuh, Harga Masker Melonjak
JAKARTA – Bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang meluas di sejumlah wilayah Kalimantan, Palembang, dan Jambi, bersamaan dengan sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau, berdampak terhadap berbagai sektor krusial di Indonesia. Paparan asap dan abu vulkanik tidak hanya mengancam kesehatan masyarakat, tetapi juga mengganggu aktivitas publik, termasuk pendidikan dan penerbangan. Sejumlah sekolah di wilayah terdampak terpaksa meliburkan siswa atau mengalihkan kegiatan belajar-mengajar ke pembelajaran jarak jauh untuk mengurangi risiko paparan asap yang dapat memicu gangguan pernapasan, seperti asma dan infeksi saluran pernapasan akut (ISPA).

Gangguan juga terjadi pada sektor penerbangan. Jarak pandang yang menurun akibat asap karhutla serta potensi bahaya abu vulkanik terhadap mesin pesawat membuat sejumlah penerbangan di berbagai bandara harus dibatalkan. Kondisi tersebut dilakukan sebagai langkah antisipasi untuk menjaga keselamatan penerbangan di tengah menurunnya kualitas udara dan meningkatnya risiko di jalur penerbangan.
Di tengah situasi tersebut, permintaan terhadap masker medis dan masker respirator seperti N95, KN95, serta KF94 mengalami peningkatan tajam. Lonjakan permintaan justru memunculkan persoalan baru di tingkat perdagangan eceran. Harga masker dilaporkan melonjak hingga 10 kali lipat dari harga normal di sejumlah toko fisik maupun platform daring. Sejumlah konsumen bahkan mengeluhkan adanya pembatalan transaksi secara sepihak oleh penjual setelah pesanan dilakukan.

Dari sisi kesehatan, masyarakat diimbau menggunakan perlindungan pernapasan secara tepat selama berada di wilayah yang terpapar asap dan abu. Dokter spesialis paru RSUP Persahabatan, Prof. Dr. dr. Agus Dwi Susanto, Sp.P(K), mengingatkan masyarakat untuk rutin mengganti masker, terutama jika digunakan dalam waktu lama. Menurutnya, masker dapat menjadi lembap akibat uap air dari pernapasan sehingga efektivitas dan kenyamanannya dapat berkurang. Ia menyebut masker N95 yang digunakan untuk aktivitas di luar ruangan selama enam hingga delapan jam juga perlu diganti.
“Berkenaan dengan beredarnya isu kelangkaan stok dan kenaikan harga masker di pasaran pasca letusan Gunung Anak Krakatau, saat ini memang terjadi kenaikan harga di beberapa toko offline maupun online. Kelangkaan stok masker hanya terjadi di sejumlah tempat di tingkat penjual eceran, sementara stok di tingkat produsen dan distributor masih mencukupi,” jelas Kepala Biro Komunikasi Kemenkes, Aji Muhawarman, Selasa (8/9/2026).

Sementara itu, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) memastikan persoalan ketersediaan masker tidak terjadi pada tingkat produsen dan distributor. Kepala Biro Komunikasi Kemenkes, Aji Muhawarman, mengatakan kelangkaan hanya ditemukan di sejumlah titik pada tingkat pengecer, sementara stok di tingkat produsen dan distributor masih mencukupi. Menurutnya, kenaikan harga yang terjadi di sejumlah toko offline maupun online lebih berkaitan dengan gangguan distribusi di rantai pasok hilir serta tingginya permintaan masyarakat setelah erupsi Gunung Anak Krakatau dan meluasnya paparan asap karhutla.

Kemenkes juga mengingatkan masyarakat agar tidak panik dalam memenuhi kebutuhan masker. Apabila masker respirator seperti N95, KN95, atau KF94 sulit diperoleh, masker medis biasa masih dapat digunakan sebagai alternatif perlindungan mandiri. Meski demikian, kemampuan filtrasi masker medis disebut berbeda dengan masker respirator, sehingga masyarakat tetap dianjurkan menyesuaikan jenis perlindungan dengan tingkat paparan dan aktivitas yang dilakukan.
Kondisi tersebut memperlihatkan dua sisi dampak bencana yang terjadi secara bersamaan. Di satu sisi, karhutla dan sebaran abu vulkanik menimbulkan krisis kesehatan serta melumpuhkan sebagian aktivitas pendidikan dan penerbangan.





