Senja di Antara Puing: Kadin Jambi Datang Menyapa 59 Korban Kebakaran Cempaka Putih
JAMBI – Senja mulai merayap turun di kawasan Jalan HMO Bafadal, RT 23, Kelurahan Cempaka Putih, Kecamatan Jelutung, Kota Jambi. Di antara bangunan yang tersisa dan puing-puing rumah yang menghitam, sejumlah warga masih bertahan di lokasi pengungsian dengan tatapan kosong menatap sisa-sisa kehidupan mereka yang lumat oleh api.

Di tengah suasana yang masih diselimuti duka itu, secercah kepedulian hadir. Senin (31/8/2026) sekitar pukul 17.00 WIB, sebuah rombongan datang membawa harapan baru. Mereka membawa paket bantuan berupa beras, telur, sembako, perlengkapan mandi, handuk, selimut, minyak kayu putih, bantal, kasur, hingga santunan tunai dalam amplop.
Rombongan tersebut dipimpin langsung oleh Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Provinsi Jambi, Usman Sulaiman. Ia didampingi oleh pengurus Kadin lainnya, yakni Siti Hardiana, S.E., Sigit Arianta, Rdn. Swandi, Haziah, serta sejumlah anggota Kadin Provinsi Jambi.

Mereka datang bukan untuk sekadar melihat sisa kebakaran dari kejauhan. Satu per satu korban ditemui secara langsung. Bantuan diserahkan dari tangan ke tangan, diiringi percakapan hangat yang berusaha membasuh kesedihan warga.
Dua hari sebelumnya, tepatnya pada Sabtu (29/8/2026) siang, tempat ini berubah menjadi kepungan api yang mencekam. Sedikitnya 19 rumah ludes terbakar, menyebabkan 20 Kepala Keluarga (KK) atau 59 jiwa kehilangan tempat tinggal. Dalam waktu singkat, rumah yang selama bertahun-tahun menjadi tempat berlindung berubah menjadi arang dan puing.
Bagi para korban, yang hilang bukan sekadar bangunan fisik. Pakaian, perabot rumah tangga, dokumen penting, tempat tidur, hingga barang-barang yang menyimpan memori keluarga ikut bersemayam bersama abu. Sebagian warga kini harus menjalani hari-hari dari tenda darurat, memutar otak tentang bagaimana cara memulai kembali kehidupan dari titik nol.

Oleh karena itu, kehadiran Kadin Provinsi Jambi menjadi lebih dari sekadar daftar barang bawaan. Beras berarti kepastian pangan untuk beberapa hari ke depan, telur menjadi lauk pengisi energi, sementara selimut dan kasur menjadi alas istirahat yang layak setelah malam-malam penuh trauma. Perlengkapan mandi membantu memenuhi sanitas dasar, sedangkan bantuan dalam amplop memberi fleksibilitas bagi warga untuk memenuhi kebutuhan mendesak yang tidak terlihat.
Barang-barang itu tampak sederhana bagi orang luar, namun bagi mereka yang baru saja kehilangan segalanya, kesederhanaan tersebut memiliki arti yang sangat mendalam.
Api Datang dalam Hitungan Menit
Bencana yang memporak-porandakan permukiman padat ini terjadi pada Sabtu siang. Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Damkartan) Kota Jambi menerima laporan perdana pada pukul 13.52 WIB melalui WhatsApp, telepon, dan Call Center 112. Hanya berselang 12 menit, atau pukul 14.04 WIB, petugas berseragam merah sudah tiba di lokasi.
Namun, api sudah terlanjur menggila. Karakteristik kawasan yang padat membuat kobaran dengan sangat mudah menjalar dari satu dinding ke dinding lainnya. Akses jalan yang sempit membatasi ruang gerak kendaraan pemadam, diperparah embusan angin kencang yang kian mempercepat perambatan api.

Kepala Damkartan Kota Jambi, Mustari Affandy, mengungkapkan beratnya medan yang harus dihadapi pasukannya di lapangan.
“Begitu laporan kami terima, personel langsung bergerak menuju lokasi. Kondisi di lapangan cukup berat karena permukiman padat, akses masuk sempit, dan angin cukup kencang sehingga api berpotensi cepat menyebar,” ujar Mustari.
Demi menjinakkan si jago merah, Damkartan mengerahkan sedikitnya 60 personel yang disokong oleh delapan unit armada tempur, tiga armada suplai, satu armada komando, serta satu ambulans PSC 119.
Selama kurang lebih tiga jam 15 menit, petugas bertaruh peluh memutus jalur api dengan menyemprotkan sekitar 95 ribu liter air. Tantangan petugas tidak hanya datang dari api dan infrastruktur jalan, melainkan juga dari kerumunan warga yang berbondong-bondong menonton, bahkan melakukan siaran langsung (live streaming) di media sosial dari jarak dekat.
Bagi petugas, kerumunan seperti ini sangat membahayakan keselamatan dan menghambat mobilitas mobil pemadam yang keluar-masuk mencari air.
“Kami mengimbau masyarakat agar tidak mendekat ke lokasi ketika petugas sedang melakukan pemadaman. Jangan sampai kehadiran warga justru menghambat pergerakan armada dan membahayakan diri sendiri,” tegas Mustari. Ia menambahkan, bantuan terbaik dari masyarakat saat bencana terjadi adalah memberikan jalan lapang bagi petugas.
Api Padam, Masalah Belum Selesai
Amukan api akhirnya berhasil dikendalikan total. Beruntung, tidak ada laporan korban jiwa maupun luka-luka dalam peristiwa hebat ini. Kendati demikian, padamnya api bukanlah akhir dari persoalan.
Sebanyak 59 jiwa kini harus menatap masa depan yang serba tidak pasti. Nilai total kerugian materiil saat ini masih dalam proses pendataan mendalam. Sementara untuk penyebab kebakaran, Damkartan telah menyerahkan proses penyelidikan sepenuhnya kepada pihak kepolisian. Garis polisi kini telah terpasang di bawah penanganan Polsek Jelutung.

Operasi penanganan darurat ini berhasil berkat sinergi dari berbagai unsur, mulai dari PLN Jambi, PSC 119, Babinsa, Bhabinkamtibmas, BPBD, relawan damkar, Dinas Sosial, Polsek Jelutung, pihak Kecamatan Jelutung, hingga Kelurahan Cempaka Putih. Tepat pukul 17.40 WIB pada hari kejadian, petugas Damkartan telah kembali ke pos masing-masing.
Namun bagi korban, malam-malam panjang setelahnya adalah perjuangan baru. Ada anak-anak yang harus ditenangkan, urusan perut yang harus dipikirkan, dokumen yang harus diurus ulang, dan kehidupan yang perlahan-lahan harus dirajut kembali.
Sebuah Bantuan di Ujung Senja
Dua hari pasca-petaka, kehadiran Usman Sulaiman beserta jajaran Kadin Provinsi Jambi di kala matahari mulai meredup membawa kehangatan tersendiri di hati para pengungsi.
Saat paket bantuan diturunkan dan dibagikan satu demi satu, tangis haru salah seorang korban pecah. Air matanya mengalir tak kala menerima uluran tangan dan kepedulian dari organisasi pengusaha tersebut.

“Saya merasa haru dengan kehadiran keluarga besar Kadin Provinsi Jambi. Ternyata masih ada orang lain yang peduli dengan warga Cempaka yang terkena musibah Sabtu kemarin,” ucap salah satu warga terdampak dengan mata berkaca-kaca.
Ucapan itu sarat akan makna. Bagi mereka yang sedang terjatuh akibat bencana, perhatian dan kehadiran sesama adalah obat psikologis yang tak ternilai harganya. Kadin Provinsi Jambi membuktikan bahwa tanggung jawab sosial tidak melulu soal angka yang megah, melainkan hadir secara nyata dalam wujud kasur untuk tidur, selimut untuk menghangatkan malam, dan beras untuk menyambung esok hari.






Hey
List sendangroso.com in Google’s Search Index so it can show up in web search results!
Register sendangroso.com today:
searchindex.pro